PENERAPAN TEORI ARGUMEN DALAM PENULISAN SENI RUPA; KASUS: BUKU LIMA MAESTRO SENI RUPA MODERN INDONESIA

Yudistira Ahmad Dilianzia, Aminudin TH Siregar

Abstract


Penulisan sejarah mengenai seni rupa di Indonesia, khususnya pada era setelah berdirinya PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) belum
mencapai potensinya yang maksimal. Hal ini terlihat dengan minimnya tulisan-tulisan yang membahas periode tersebut, dan tulisan-tulisan yang
mengkhususkan pada seniman-seniman tertentu dari periode tersebut. Pada tahun 2012 silam, diluncurkan buku Lima Maestro Seni Rupa Modern
Indonesia karya Oei Hong Djien, kolektor karya seni dan pimpinan OHD Museum, yang membahas mengenai seniman-seniman dari era setelah
berdirinya PERSAGI. Seniman-seniman tersebut adalah Affandi, S.Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Widayat. Pembahasan mengenai senimanseniman
tersebut menyinggung perihal biografi dari seniman-seniman tersebut dan kesenimanan yang diusung oleh mereka, dan dalam beberapa
kesempatan dituliskan juga wacana-wacana baru mengenai seniman-seniman tersebut Dengan menggunakan teori pembentukan argumen dari
Toulmin, di mana dibutuhkan beberapa unsur seperti data, claim, warrant, backing, qualifier, dan rebuttal, beberapa argumen dari buku tersebut
dianalisa metodologi pembentukannya. Ditemukan bahwa terdapat argumen-argumen yang tidak metodologis dalam penulisan buku tersebut, dan
beberapa klaim yang dilakukan oleh buku tersebut tidak paralel dengan klaim yang terdapat juga dalam pustaka lain. Analisa ini membuktikan
hipotesa bahwa buku yang ditulis oleh Oei Hong Djien tidak menggunakan metodologi yang wajar dalam penulisan seni rupa dan banyak
mendasarkan argumen pada asumsi dari penulis buku tersebut.

Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.